Sejarah Lengkap Penemu dan Ciri-Ciri Meganthropus Paleojavanicus

Sejarah penemu dan ciri-ciri Meganthropus Paleojavanicus memang sudah pernah kita jumpai materi tersebut saat kita masih di bangku sekolah. Namun tentunya seiring dengan waktu daya ingat pun akan berangsur memudar. Namun tentunya dengan adanya ulasan ini, mungkin bisa membangkitkan memori anda mengenai manusia manusia prasejarah ini.

Dan tentunya tidak hanya para siswa saja yang membutuhkan penegnalan akan sejarah ini. Kita pun sebagai orang orang dewasa tentu diharuskan untuk mengenal sejarah tersebut. Mesi memang tidak sedikit orang juga yang meperdebatkan masalah sejarah sejarah tersebut. Akan tetapi, dikesempatan yang bahagia ini, kami inginberbagi informasi dan engajak anda untuk menulas kembali mengenai sejarah penemu dan ciri-ciri Meganthropus Paleojavanicus berikut.

Rangkuman Sejarah Penemu dan Ciri-Ciri Meganthropus Paleojavanicus

Tentu sebelum kita mengenal lebih dalam mengenai manusia purba yang satu ini, alangkah baiknya jika kita mengerti terlebih dahulu akan sebutan tersebut. Meganthropus Paleojavanicus merupakan pemberian nama yang dikarenakan postur tubuhnya. Bahkan Meganthropus Paleojavanicus memiliki arti “Manusia Raksasa dari Jawa” dan dinyatakan sebagai mahkluk yang paling primitive.

Manusia purba ini diketemukan pertama kali di Sangiran, Sragen Jawa Tengah oleh seseorang Belanda yang bernama Van Koenigswald  dikisaran tahun 1934 dan 1941. Dengan cara menyisir sepanjang lembah sungai di bengawan  Solo. Alhasil, menemukan fossil terutama bagian rahang dan tempurung tengkorak, tentunya para ilmuwan mulai meneliti akan keseluruhannya. Dan alhasil, manusia purba dengan jenis ini memiliki ciri ciri yang antara lain:

  1. Hidup dikisaran 2 – 1 juta tahun lalu
  2. Memiliki tubuh kekar dan lebih tegap
  3. Memiliki bentuk geraham seperti manusia tetapi tidak berdagu seperti kera
  4. Rahang yang relative lebih besar
  5. Ada penonjolan pada kening dan belakang kepalanya
  6. Memiliki tulang pipi yang relative tebal
  7. Makanan pokok adalah tumbuh-tumbuhan (vegetarian)

Dan tentunya para ilmuwan pun tidak menyimpulkan dengan sembarangan. Dan untuk lebih mempertegasnya lagi, kami lampirkan juga fosil fosil yang ditemukan dan juga analisa lebih lanjutnya, berikut ini:

Meganthropus A (Rahang) Sangiran 6

Fossil rahang yang cukup lengkap dengan gigi nya ini cukup memuktikan bahwa Meganthropus Paleojavanicus ini memiliki geraham seperti manusia. Dan perlu anda ketahui bahwa rahang ini pertama kali ditemukan oleh Van Koenigswald di tahun 1941. Meski saat itu Koenigswald tertangkap oleh jepang, namun rahang sudah dikirimkan untuk dianalisa oleh Frans Weidenreich dengan kesimpulan antara lain:

  • Weidenreich cukup terkesima akan ukuran rahang dari specimen tersebut yang kemudian memberikan nama di tahun 1945. Degan menyebutkan rahang terbesar yang pernah dikenal, bahkan setara dengan rahang Gorilla meski berbeda bentuk.
  • Dan keunikan pun ditemukan di specimen ini, dimana pada sebelumnya beum pernah ditemukan bahwa ketinggian posisi pertama Molar (M1) specimen ini adalah yang terbesar.
  • Weidenreich pun menganggap temuannya adalah Gigantisme Acromegalik, namun tidak masuk dalam golongannya.Pasalnya spesimen ini memiliki keunikan tersendiri, yang antaralain adalah giginya yang kecil jika disbanding rahannya, kemudian dagu yang cukup menonjol.
  • Dan prediksi dari Weidenreich mengatakan bahwa specimen ini bisa saja berukuran 2/3 dari gigantopithecus.Yang mana ukurannya bisa 2 kali lebih besar dari Gorilla yang bisa mencapai 2.4 meter tingginya.
  • Rekonstruksi tengkorak yang dilakukan Grover Krantz yang diprediksi dari tulag rahang dikalkulasikan memiliki ketinggian 8.5 inci atau 21 cm secara keseluruhan.

Meganthropus B (Rahang) Sangiran 8

Sedangkan untuk rahang lain yang satu ini diketemukan dan dianalisa Marks di tahun 1953 dengan kondisi yang terbilang rusak parah. Namun memiliki ukuran serta bentuk yang tidak berbeda jauh dari sebelumnya. Hanya saja ilmuwan Jepang dan Indonesia terus mengembangkan penelitiannya dengan memperbaiki fossil yang sudah dewasa ini. Namun menunjukan specimen ini lebih kecil dari H. Homo. Akan tetapi uniknya tidak ada specimen H.Homo yang mirip dengan rahang yang satu ini. Dalam artian rahang ini merupakan rahang yang cukup baru dari sisi ciri-ciri nya. Maka dari itu tetap dimasukkan dalam specimen Megantropus.

Meganthropus C (Rahang) Sangiran 33

Dan untuk rahang yang ini bisa dibilang cukup berbeda dengan specimen yang lainnya, dan bahkan bisa dibilang palig berbeda. Fossil ini diketemukan di kisaran tahun 1979 dengan bentuk kekerabatan palin lemah.

Meganthropus D (Rahang)

Rahang yang satu ini pun bisa dibilang masih memiliki banyak kemiripan dengan spesimen yang sebelumnya. Namun specimen ini di akusisi oleh Sartono dikisaran tahun 1993 dan dipredikisi berasal dari 1.4 hingga 0.9 juta tahun yang lalu. Hanya saja bagian ramus cukup rusak, namun sisi rahang masih terbuka dengan cukup baik walau bagian gigi tidak sedikit yang hilang. Dan hasilnya dari analisa ketiga ilmuwan yakni Krantz, Sartono dan Tyler menyimpulkan bahwa Spesimen ini masih masuk dalam kategori Meganthropus. Karena menurut mereka, fossil ini masih mepresentasikan rahang yang sama seperti Meganthropus A hingga D.

Meganthropus I (Tengkorak) Sangiran 27

Sedangkan fossil tengkorak ini di dianalisa oleh antropologis Tyler ang memang bisa dibilang fossil tersebut sudah cukup rusak bahkan diambang hancur. Namun dengan ketidak adaannya jendolan ganda dan ukuran diluar batas H.Homo, maka diasumsikan merupakan tengkorak dari Meganthropus. Dan juga dibagian atas tempurung, kepala dan leher memiliki nuchal sangat tebal.

Meganthropus II (Tengkorak) Sangiran 31

Dan untuk yang terakhir ini dianalisa serta dipresentasikan oleh Sartono dikisaran tahun 1982. Eski memang menurut Tyler ukuran tersebut cukup mirip dengan ukuran normalnya specimen H. Homo. Namun ukuran tempurungnya terbilang lebih luas, lebih dalam, dan juga lebih berkubah.  Dengan prediksi punggung temporal atau Sagital Crest ganda serta kapasitas otak hingga 1000cc bisa disebutkan bahwa isi tempurung lebih luas dari specimen sebelumnya yang pernah ditemukan.

Yang tentunya penelitian tersebut bukan semabarang dilakukan seperti yang sudah kami singgung sebelumnya. Hal tersebut tentu melewati berbagai proses guna menciptakan sebuah kesimpulan. Meski memang tidak mudah untuk bisa memberikan gambaran yang sempurna dan hingga saat ini pun hal ini masih diperdebatkan. Namun tentu sebagai penambah wawasan hal ini tidak menjadi permasalahan.

Terlebih jika mengingat disaat berada di bangku sekolah pun ada pelajaran sejarah dimana kita harus lebih mengenal apa yang ada disekitar kita. Terlebih dengan masalah asal muasal isi dari alam semesta ini yang masih banyak dipertanyakan. Maka dari itu, manfaatkanlah ulasan diatas dengan baik dan tentunya dengan pandangan positif.

Sekian dari kami, tentunya masih banyak sejarah sejarah lain yang bisa menambah wawasan kita semua saat ini. Namun tentunya akan sulit jika kita ulas dalam satu pertemuan ulasan saja. Yang mungkin setelah ulasan sejarah penemu dan ciri-ciri Meganthropus Paleojavanicus ini akan kami ulas sejarah lainnya, semoga bermanfaat.

Incoming search terms:
meganthropus paleojavanicusmeganthropusmeganthropus palaeojavanicusciri ciri meganthropuspenemu meganthropuspengertian meganthropusmegantropus paleojavanicusMegantropuspenemu meganthropus paleojavanicuscarilah nama penemuan tahun daerah Ciri-ciri meganthropus palejavanicus
Sejarah Lengkap Penemu dan Ciri-Ciri Meganthropus Paleojavanicus | admin | 4.5