Sejarah Valentine Day dan Hukum Merayakannya dalam Pandangan Islam

Cinta adalah sebuah tema yang klise, namun selalu menarik disimak di setiap zaman. Bahkan, di setiap zaman, selalu ada kisah menarik soal cinta. Seperti cinta dan kasih sayang, keduanya selalu erat dan tidak bisa dipisahkan. Cinta dan sayang muncul dari dalam hati manusia.

Seiring dengan berbagai kisah tragis, soal cinta. Maka banyak orang ingin membuat peringatan. Misal, kisah Romeo Juliet. Orang mengenal dengan icon kasih tak sampai. Sampai sekarang, jika bicara soal kasih tak sampai maka akan mengarah kepada kisah kedua insan tersebut.

Tidak salah, sih. Karena peringatan tujuannya untuk menentang sebuah adat, tradisi atau perilaku yang bertentangan dengan kemanusiaan. Namun, apa jadinya jika peringatan tersebut justru menyalahi aturan dari agama atau keyakinan yang dianut?

Sejarah Valentine Day

Valentine Day, dikenal dengan nama hari Kasih sayang. Di mana, peringatan dari hari ini adalah dengan membuktikan cinta dan sayang. Biasanya, anak muda akan menyatakan cintanya. Bahkan, tak sedikit yang kemudian berakhir dengan pergumulan di atas ranjang, padahal belum menikah.

Meski marak diperingati, tetapi Valentine day yang jatuh 14 Februari, selalu berhasil menyudutkan kaum wanita. Bahkan merugikan. Tidak sedikit remaja putri yang kehilangan kegadisannya di hari itu. Valentine Day, menurut data dari Ensiklopedi Katolik, adalah nama dari Valentinus.

Nah, Valentinus ini adalah  nama dari tiga martir atau orang suci yang berbeda. Tidak ada kajian spesifik mengenai nama 3 orang suci ini. tetapi Paus Gelasius I, pada tahun 496, menyatakan bahwa orang suci tersebut sama sekali tidak ada kaitannya dengan hari kasih sayang yang diperingati pada 14 Februari.

Serba-serbi Sejarah Valentine Day yang ada

Versi pertama

Ada banyak sekali versi Valentine Day. Meski begitu, salah satu versi yang terkenal adalah mengenai nama 3 orang suci. Yang kemudian meninggalkan kesan mendalam. Disebutkan, bahwa 3 orang suci tersebut mati demi membela kaum lemah pada tanggal 14 Februari.

Dan dari sanalah kemudian muncul istilah hari kasih sayang. Tetapi sebagian literatur mengatakan, Valentine Day, diciptakan Paus Gelasius I untuk mengungguli hari raya Lupercalia yang dirayakan pada tanggal 15 Februari. Nama orang suci tersebut adalah:

  • Pastur di Roma
  • Uskup Interamna (modern Terni)
  • Martir di provinsi Romawi Afrika

Penemuan mengenai 3 orang suci tersebut, dibuktikan dengan penggalian sisa-sisa kerangka di makam Santo Hyppolytus. Kerangka itu, kemudian dikirim ke gereja Whitefriar Street Carmelite Church di Dublin, Irlandia.

Dikemudian hari,  jenazah menjadi magnet bagi banyak wisatawan. Sekarang banyak yang berziarah ke gereja ini pada hari Valentine (14 Februari).

Bahkan hari raya Valentine Days, dihapus dari kalender gerejawi pada tahun 1969. Jadi, secara resmi gereja menghapus perayaan dan juga tetek bengek soal perayaan hari kasih sayang ini. Meski, jika ditelusuri, sejumlah paroki masih menghidupkannya.

Versi Kedua

Seorang pastor bernama Santo Valentine ditangkap dan dipenjara. Kemudian dihukum mati oleh Kaisar Claudius ll. Akar masalahnya, karena dia menyakini bahwa Isa Al-masih adalah Tuhan dan menolak meyembah Tuhannya orang Romawi.

Versi Ketiga

Kaisar Klaudius menganggap bahwa tentara bujangan lebih tabah dan lebih berani. Namun Santo Valentine melanggarnya dan menikahkan banyak tentara. Kemudian dihukum mati pada tanggal 14 Februari. Di sinilah kemudian dikenal dengan nama hari kasih sayang.

Kesimpulan:

Dari sekian banyak literatur menyebutkan, Valentine Day adalah hari atau perayaan dari umat Nasrani. Salah satu kisah yang mahsyur adalah sebagai tandingan dari hari raya Lupercia. Yang konon, di Roma kuno, 15 Februari dikenal sebagai hari raya Lupercalia.

Jadi, Valentine Days sejatinya adalah hari raya milik non muslim. Sehingga tidak pantas jika ummat lain, atau pemeluk agama lain mengikuti. Kecuali memang dia ingin masuk ke agama Nasrani. Dan dari sini, juga jelas bahwa Valentine Days memang tidak jelas asal-usulnya. Bahkan pihak gereja juga menolaknya.

Hukum Merayakan Valentine dalam Pandangan Islam

Seluruh agama Samawi tentu memiliki aturan tersendiri. Dan semuanya memerintahkan agar, setiap pemeluk agama samawi memegang teguh ajaran agamanya. Begitu juga dengan Islam. Islam dengan tegas mengatakan, tidak boleh menggangu, atau merayakan hari raya agama lain.

Dalam sabdanya, rosul menegaskan.

” Barangsiapa meniru suatu kaum, maka ia termasuk dari kaum tersebut ” (HR. At-Tirmidzi)

Dalam konsep dasar agama Islam ada yang disebut Al-wala’ wal baro‘. Artinya cinta dan benci. Penjelasannya, cinta karena Allah dan benci karena Allah.

Dan itu menjadi prinsip dasar dibangunnya agama Islam. Seorang pemeluk agam Islam wajib memakai prinsip itu. Maka, merayakan valentine Days, sama saja melanggar prinsip agama. Selain itu, melanggar beberapa hal di bawah ini:

  • Valentine’s Day adalah upacara keagamaan Romawi Kuno. Dalam upacara ini penuh dengan paganisme dan kesyirikan.
  • Diubah menjadi hari perayaan gereja dengan nama Saint Valentine’s Day atas inisiatif Paus Gelasius I.
  • Valentine adalah ritual agama Nashrani yang diubah peringatannya menjadi tanggal 14 Februari
  • Melanggar perintah Nabi, agar tidak menyerupai suatu kaum
  • Valentine identik dengan kerusakan moral. Apalagi di masa sekarang

Dengan semua itu, haram hukumnya seorang muslim merayakan Valentine Days. Karena memang bukan perayaan agama islam. Dan mengandung banyak keburukan moral, serta tasyabuh dengan kuffar. Nah, semoga ringkasan ini bermanfaat untuk Anda semua. Sampai jumpa pada kesempatan yang akan datang. Salam.

 

 

Incoming search terms:
sejarah valentine day menurut islam
Sejarah Valentine Day dan Hukum Merayakannya dalam Pandangan Islam | a dfadfa | 4.5